Aqidah 10 Jun 2026
Tauhid secara bahasa berarti menjadikan sesuatu satu/tunggal. Sedangkan secara istilah syar'i, tauhid adalah mengesakan Allah ﷻ dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya.
Para ulama membagi tauhid menjadi tiga jenis:
Yaitu mengesakan Allah ﷻ dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan alam semesta. Meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur seluruh urusan alam ini.
Allah ﷻ berfirman:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
"Ingatlah, hanya milik Allah penciptaan dan urusan. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf: 54)
Yaitu mengesakan Allah ﷻ dalam beribadah. Hanya Allah yang berhak diibadahi, dan semua bentuk ibadah — shalat, doa, tawakal, nadzar, penyembelihan — hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
Inilah inti dari kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ — tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah.
Yaitu mengesakan Allah ﷻ dengan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur'an dan sunnah Nabi ﷺ, tanpa tahrif (mengubah), ta'thil (menolak), takyif (mempertanyakan hakikatnya), dan tamtsil (menyamakan dengan makhluk).
Rasulullah ﷺ memulai dakwahnya selama 13 tahun di Makkah dengan membangun tauhid dalam hati para sahabat. Ini menunjukkan betapa pentingnya tauhid sebagai pondasi. Tanpa tauhid yang benar, semua amal ibadah tidak akan diterima oleh Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita tauhid yang benar dan murni, serta menjauhkan kita dari segala bentuk syirik — baik yang besar maupun yang kecil. Aamiin.