Aqidah 10 Jun 2026
Betapa aneh manusia… Ia tahu ke mana ia harus menuju, tetapi justru sibuk memungut hal-hal yang tidak akan pernah mengantarkannya sampai.
Seperti seorang musafir yang telah diberi peta, ditunjukkan jalan, bahkan diperingatkan tentang jurang dan kesesatan; namun ia malah terpukau oleh kilauan batu di pinggir jalan, lalu lupa kepada tujuan perjalanannya.
Padahal umur terus berjalan… Napas terus berkurang… Dan kematian tidak pernah menunggu seseorang selesai bermain-main.
Sungguh mengherankan orang yang mengetahui bahwa surga adalah cita-cita tertinggi, tetapi hari-harinya habis untuk sesuatu yang tidak mendekatkannya kepada Allah. Lisannya sibuk, tetapi bukan dengan dzikir. Pikirannya penuh, tetapi bukan dengan ilmu yang bermanfaat. Waktunya padat, tetapi bukan dengan amal yang menyelamatkannya.
Ia mengejar pujian manusia, padahal pujian itu tidak akan meringankan hisabnya. Ia fokus mengumpulkan kemilau dunia, padahal semua itu tidak akan menemaninya di dalam kubur. Ia rela menghabiskan tenaga demi sesuatu yang fana, tetapi berat melangkah untuk sesuatu yang kekal.
Allah Ta‘ālā telah mengingatkan:
﴿ أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ عَبَثࣰا وَأَنَّكُمۡ إِلَیۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ﴾
“Maka apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mu’minūn: 115)
Orang yang cerdas bukanlah yang mengumpulkan paling banyak dunia, tetapi yang paling paham apa yang benar-benar bernilai untuk akhiratnya. Karena tidak semua yang membuat hati senang akan membuat hidup selamat. Tidak semua yang menyita perhatian layak diperjuangkan. Dan tidak semua jalan ramai akan mengantarkan kepada ridha Allah.
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
«وَإِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ؛ لِأَنَّ إِضَاعَةَ الْوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْمَوْتُ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا»
“Menyia-nyiakan waktu lebih berat daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutusmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutusmu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawā’id, hlm. 44)
Maka sungguh merugi orang yang mengetahui tujuan hidupnya, tetapi hatinya justru tertawan oleh perkara-perkara rendah yang tidak menambah iman, tidak mendekatkan kepada Allah, dan tidak menyelamatkannya pada hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam.